Beritakan Warga Positif Rapid Test Covid-19, Wartawan di Muratara Dikroyok Hampir Bonyok

Beritakan Warga Positif Rapid Test Covid-19, Wartawan di Muratara Dikroyok Hampir Bonyok

Murexs.com,Muratara-Sampaikan informasi Corona virus desease 2019(Covid-19) melalui media online resmi, wartawan di Kabupaten Musi Rawas Utara di Kroyok hingga di cekik, Kamis(14/5).

Pengeroyokan tersebut di duga akibat pemberitaan terkait virus Corona, korban pernah menyampaikan informasi melalui media online resmi MSM yaitu berita mengenai kasus positif Corona dari hasil Rapid Test yang di dapatkan dari rilis jubir Muratara.

“Awalnya saya mengendarai mobil sendirian hendak mencari makanan untuk menu berbuka puasa, ada pria yang tidak saya kenali dan tiba-tiba dipepet dan dihadang serta diminta berhenti oleh pria mengendarai motor”, ungkap Abdul Majid seorang wartawan korban pengeroyokan.

Lalu Majid turun dari mobilnya dan menanyakan mengapa ia diberhentikan, sedangkan ia tidak punya masalah orang orang tersebut

“Saat di tanyakan pria itu menjawab bahwa mereka sedang mencari orang yang memberitakan keluarganya yang positif Rapid Test beberapa waktu yang lalu”,tuturnya.

Katanya ayuknya dijauhi orang gara-gara berita itu, dia tidak senang. Saya jawab, saya memberitakan itu berdasarkan rilis pers gugus tugas Covid-19 Muratara,” ujar Majid.

Akhirnya terjadi lah cekcok mulut antara pelaku dan korban sehingga korban di keroyok hingga di cekik.

Akibat pengeroyokan tersebut seorang wartawan Muratara yang menjadi korban tersebut mengalami Lebam dan sakit-sakit di bagian tenggorokan dan kepala.

Sementara itu Ketua PWI Muratara Marwan Ashari nyatakan sikap, menolak keras aksi anarkisme dan pembunuhan demokrasi pers di wilayah Muratara.

“kasus ini membunuh kebebasan pers di Muratara, kami minta pihak kepolisian untuk secepatnya menindaklanjuti laporan itu,” tegasnya.

Ia mendesak kepada aparat kepolisian segera menindaklanjuti kasus tersebut.

“Kami minta pihak aparat kepolisian segera menindaklanjuti kasus tersebut hingga tuntas, agar tidak ada lagi aksi yang sedemikian tersebut”desaknya.

Menurutnya, aksi menghalang halangi kebebasan pers bisa di tuntut UU Pers Nomor 40 tahun 1999. Pasal 4 UU Pers mengatur bahwa pers nasional berhak mencari, memperoleh, mengolah, dan menyebarluaskan informasi.

Sementara pasal 18 mengatur bahwa setiap orang yang menghambat atau menghalangi kerja jurnalistik akan diancam pidana maksimal dua tahun penjara atau denda paling banyak Rp500 juta.

(Elda/Murexs.com)

Umum